SOAL EKSPEDISI SITUS DI BATU TULIS, 2009 DISPARBUD SUDAH PERNAH LAKUKAN HAL SERUPA

BERITA1BOGOR.id – Rencana Pemerintah Daerah (Pemda) yang akan melakukan penataan di sekitar kawasan Batu Tulis, Bogor Selatan, yang dinilai sarat akan sejarah, mendapat dukungan dari Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, Shahlan Rasyidi.

Menurut mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, sebelum Walikota Bogor melakukan ekspedisi mini bersama Komunitas Bogor Historia pada Sabtu (01/02/2020) kemarin, penelitian itu sudah dilakukannya semasa dirinya masih menjadi Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor.

“Sebenarnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) pada 2009 silam telah melakukan penelitian bersama sejumlah ahli dari Balai Besar Pelestarian Cagar Budaya Serang, Banten yang dibantu tim ahli sejarah Islam (alm) Prof. DR. Uka, arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) DR. Hasan Jafar, DR. Aris Munandar dan penggiat sekaligus pemerhati cagar budaya Kota Bogor Rachmat Iskandar. Dari hasil penelitian itu, kami banyak menemukan situs-situs di sekitar kawasan Batu Tulis,” ucapnya kepada wartawan, belum lama ini.

Selain menemukan banyak situs, ia melanjutkan, pihaknya juga menemukan artefak (benda arkeologi atau peninggalan benda-benda bersejarah) di longsoran Embah Dalem yang berada di Jalan Lawang Gintung, Kelurahan Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

“Artefak itu diteliti oleh Ibu Prof. Lilik (dosen UI), dan artefak tersebut rata-rata diketahui berasal dari abad ke 15 sampai abad ke 18. Sampai sekarang (seluruh artefak yang ditemukan) masih disimpan di Disparbud,” kata Shahlan.

Menjabat selama lima tahun sebagai Kepala Disparbud Kota Bogor, ia mengaku telah banyak mengetahui soal cagar budaya dan sejarah khususnya kawasan sekitar Batu Tulis yang belakangan ini tengah ramai diwacanakan akan dilakukan penataan oleh Pemkot Bogor. Jadi menurutnya, hal tersebut bukanlah hal baru dan tidak asing lagi.

“Pada 2009 juga Disparbud telah mengajukan permohonan pembangunan museum yang rencananya akan dinamakan Museum Pajajaran. Untuk lokasi bangunan museumnya yang diminta waktu itu ada gedung bekas UPTD Pendidikan di Batu Tulis, Bogor Selatan. Bahkan kita waktu itu ada bemo yang diberikan oleh Drs. H. achmad Syarif, waktu itu menjabat Kadis DLLAJ untuk disimpan di museum,” ungkap Shahlan.

“Oleh karena itu, saya sangat berharap agar Walikota betul-betul bisa merealisasikan apa yang menjadi harapan banyak pihak. Karena situs yang tersebar di kawasan Batu Tulis, Empang, Lawang Gintung, Kelurahan Pasir Jaya (Batu Dakon) dan di Kelurahan Pasir Mulya (Punden Berundak) itu merupakan kekayaan yang dimiliki Kota Bogor sebagai bukti cikal bakal kejayaan Kerajaan Pajajaran,” pungkasnya.

(Erc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: